Aku tahu
Kau tak baca puisi
Maka aku tulis ini
Puisi untuk kau
Yang tak baca puisi
Jika kau ijinkan aku
Sekali ini saja
Memberimu petuah
Maka inilah nasehatku
Boleh saja tak kau gubris
Boleh saja kau musuhi
Mahluk ganjil tengil
Yang kau sebut penyair
(Atau penyihir, apa bedanya)
Yang artinya ia yang terusir
Jauh ke pesisir waktu
Tapi kenalilah puisi
Sebab bukankah
Sembilan bulan kalian
Genapi kata
Dalam senyap relung
Bulatan semesta
Pun sesudahnya
Di dunia antah barantah
Sarat hawa busuk
Tempat buruk
Di mana turunanmu
Tumbuh dan mati
Hanya saja ternyata
Puisi tapi tak mati-mati
Sebab bukankah
Ia saudara kembar
Bersamamu terdampar
Dalam kesamaran
Sekat-sekat bahasa
Maka kenalilah
Pecahkanlah olehmu
Dinding tak nampak ini
Yang mengurungmu konyol
Dalam ini wujud kasar
Aku tahu
Kau tak suka puisi
Maka aku tulis ini
Puisi untuk kau
Yang tak suka puisi
Sudah kubuatkan
Kususun kata-katanya
Seakan baru saja aku
Belajar mengurai
Tanda-tanda baca
Alifbata mula pertama
Semogalah manfaat
Jika kau temukan
Di sana-sini terasa
Dibuat-buat terlalu
Dengan sekalian hormat
Di sini kumintakan
Setulus maaf
Sebab penyihir
(Atau penyair, apa bedanya)
Hanyalah mahkluk
Malang tapadaksa
Bisanya ia bertutur
Lebih seringnya melantur
Tak lagi keruan
Kiblat dan sujudnya
Memanglah hanya
Menghadap seluruh pada
Yang maha puisi
17 December 2009
24 November 2009
2012
Saya tak tahu apakah saya masih bekerja di tempat yang sekarang, di tahun 2012 nanti. Ketika saya menuliskan ini situasi di perusahaan sedang agak resah. Kabar-kabar seputar “perampingan” (mereka membuat sebutan sopan untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya) terus bergulir saban hari. Siapa bakal jadi “korban” berikutnya? Mungkin saya termasuk salah satu “korban” dalam daftar yang mereka siapkan, siapa yang tahu? Jika ternyata betul saya ikut “dibabat” (tahun ini juga?), saya belum punya gambaran persis akan bikin apa sesudahnya.
Beberapa waktu yang lalu saya mencoba menjajaki peluang bisnis di jagat maya, tapi hasilnya bikin saya (sementara) patah semangat. Tapi jika saya betul “dibabat” (apakah awal tahun depan?), mungkin saya akan kembali menjajal peluang di sana, dan mungkin siapa tahu, di tahun 2012, bisnis online saya sudah maju pesat, karena kali ini saya punya banyak kesempatan waktu (dan tekad) untuk mencoba lebih maksimal “main-main” di dunia maya ini. Karena situasinya sudah “to kill or be killed” bagi saya. Maka saya, seperti para pebisnis online lain yang sukses, cukup “ngantor” di rumah saja : terhindar dari stress karena kemacetan jalan-jalan Jakarta, yang menurut ramalan para pakar bakal tambah menjadi-jadi. (Di tahun itu, 2012, Fauzi Bowo, mungkin kembali sibuk memamerkan kumis ijuknya, mencalonkan diri lagi jadi gubernur).
Di tahun 2012, saya juga tak tahu apakah saya masih menulis puisi. Meskipun tidak terpikir niatan untuk berhenti, segala hal bisa saja terjadi. Mungkin saja karena saya di tahun itu menjadi terlalu repot (dan asyik) mendulang dolar dari bisnis internet saya yang booming, maka saya pun jadi “lupa” bagaimana caranya menulis sajak. Saya lalu menjadi “tumpul”, menjadi kehilangan minat pada hil-hil yang berurusan dengan estetika, dan bisa saja kemudian, kehilangan pula penghargaan kepada puisi.
Atau sebaliknya, karena saat itu saya sudah menjadi cukup kaya raya (meski belum setajir Anggoro Widjojo), dan ternyata minat saya pada sastra dan kesenian tidak menjadi mati, saya kemudian berinisiatif membuat program hadiah sastra yang lebih keren dari Khatulistiwa Award. Saya juga mungkin akan sibuk memantau dan mencari benih-benih unggulan di ranah sastra untuk “diselamatkan”. Jadi saya berharap, tak ada lagi penyair berbakat yang terlunta-lunta tidak bisa menerbitkan bukunya, hanya karena ia tak cukup punya “power”, atau duit, atau “koneksi”, atau “mantra”, atau entah apa sebutannya, yang bisa meluluhkan hati beton para juragan penerbitan.
(Di tahun 2012, jangan-jangan, tak banyak hal yang berubah. Indonesia masih begini-begini saja. PSSI tak kunjung juga bikin prestasi. Chris John mungkin sudah tak juara lagi, ia memilih berbisnis jamu kuat. Hukum rimba masih jadi panglima. Ada banyak blog yang dilarang tayang karena dianggap “menghina” ini dan itu. Mama Lauren sudah pikun, dan ramalannya jadi tidak lagi akurat. Banjir besar melanda Jakarta, sesuai “skedul” banjir bandang 10 tahunan (ingat banjir dahsyat 2002?). Tapi di tengah-tengah situasi muram itu ada juga menyeruak kabar baik, dan kabar baik itu anehnya datang dari dunia sastra : hadiah nobel sastra tahun itu ternyata jatuh kepada seorang sastrawan nusantara ...).
20 November 2009
Gelap
Mereka menyukai
Suasana gelap
Dan remang-remang
Pun hawa yang lembab
Ke sanalah mereka
Terbang mengitari
Mencucukkan rasa gatal
Mungkin juga sesal itu
Pada sukma gelisah
Yang rentan diburu tanya
Dan gamang dibalur
Warna abu-abu
Mereka paham betapa
Nilai-nilai alangkah semu
Menempel rapuh pada kulit waktu
Mungkin serupa daki
Mereka menyukai
Suasana yang gelap
Dan samar-samar
Pun hawa yang lembab
Suasana gelap
Dan remang-remang
Pun hawa yang lembab
Ke sanalah mereka
Terbang mengitari
Mencucukkan rasa gatal
Mungkin juga sesal itu
Pada sukma gelisah
Yang rentan diburu tanya
Dan gamang dibalur
Warna abu-abu
Mereka paham betapa
Nilai-nilai alangkah semu
Menempel rapuh pada kulit waktu
Mungkin serupa daki
Mereka menyukai
Suasana yang gelap
Dan samar-samar
Pun hawa yang lembab
11 November 2009
Sindu Putra Raih Khatulistiwa Literary Award 2009

PENYAIR Sindu Putra (lahir 31 Juli 1968) meraih Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009 untuk kategori puisi lewat kumpulan sajaknya “Dongeng Anjing Api” (penerbit Arti Foundation, Juli 2008). Sindu bukanlah nama baru dalam panggung puisi kita. Ia sudah menulis sejak 1980-an, hanya sepertinya selama ini “luput” dari perhatian. Ia mengaku “telat” masuk ke dalam “tim nasional”, mungkin karena selama ini “kurang bersemangat berkampanye” di media pusat.
Tapi “keterlambatan” itu barangkali malah menjadi berkah baginya, karena waktu “penantian” yang lama ini pada akhirnya memberinya kesempatan untuk terus berbenah sembari mematangkan diri. Hasilnya kemudian, seperti secara sepintas saya singgung dalam pengantar “obrolan” kami di halaman ini, adalah “satu dari sedikit saja buku puisi unggulan yang sempat terbit belakangan ini”. Kini, mungkin adalah waktu yang paling tepat untuk menengok kembali wawancara dengan Sindu Putra itu.
06 November 2009
Aku Hanya Mencatat
Aku hanya mencatat
Kabar-kabar pucat
Hal ihwal biasa
Yang sedari mula
Melekat pada kita erat
Serupa tanah
Lembab cokelat
Yang kupijak ini
Musim yang melaju
Di bawah langit
Yang suwung
Yang biru
Dan sepinya
Melengkung di hati
Yang bisunya
Meringkas waktu
Jadi hanya rindu
Yang padamu
Sampai sebagai luka
Warisan purba
Yang serupa
Ibunda bumi
Mesra mendekap
Kabar-kabar pucat
Hal ihwal biasa
Yang sedari mula
Melekat pada kita erat
Serupa tanah
Lembab cokelat
Yang kupijak ini
Musim yang melaju
Di bawah langit
Yang suwung
Yang biru
Dan sepinya
Melengkung di hati
Yang bisunya
Meringkas waktu
Jadi hanya rindu
Yang padamu
Sampai sebagai luka
Warisan purba
Yang serupa
Ibunda bumi
Mesra mendekap
Subscribe to:
Posts (Atom)

