Memulai hari, adalah
Seperti memulai sebuah sajak
Kita tak pernah bisa yakin
Di mana nanti ujungnya
Meski bisa saja kita memilah
Kata-kata yang kita suka
Kita paham sebetulnya
Pilihan tiada sebebas itu
Waktu melangkah keluar
Dari sempit gang dalam tubuh kita
Keluar menemui jalan raya dunia
Kelokan dan pertigaan yang kemarin
Kembali telah menantikan :
Nyatalah, kita hanya mengulang tema
Seperti dalam sebujur sajak, seraya
Menorehkan judul di lekuk-lekuknya
12 July 2009
10 July 2009
Pada Suatu Hari Pemilihan Umum
Ia tak menemukan kesulitan samasekali
Menentukan siapa pemimpin yang harus dipilihnya
Ia sudah punya perhitungan dan alasan sendiri
Begitulah, dengan tenang dan penuh keyakinan
Ia mencontreng calon yang paling sepi, calon yang
Tak bernomor dan tak ada gambarnya di lembar pemilih
Menentukan siapa pemimpin yang harus dipilihnya
Ia sudah punya perhitungan dan alasan sendiri
Begitulah, dengan tenang dan penuh keyakinan
Ia mencontreng calon yang paling sepi, calon yang
Tak bernomor dan tak ada gambarnya di lembar pemilih
09 July 2009
Peti Mati Sang Biduan
: Michael Jackson (1958-2009)
Mereka berdebat sengit tentang peti mati
Yang pantas untuk upacara penguburannya nanti
Mereka bertengkar perihal ukuran peti yang pas
Tentang berapa sebaiknya kadar karat emas
Yang paling baik digunakan melapis itu
Kotak segi empat bakal tubuhnya direbahkan
Supaya tak lekas dimakan bumi dimangsa waktu
Pihak-pihak yang berkompetan telah pula dipanggil
Sudah pada tempatnya saran mereka didengarkan
Mereka meributkan keadaan dalam peti
Apakah cukup sudah ketebalan bantalan beludru
Yang dipasang di sana, dan warna yang dipilihkan
Itu adakah cocok sudah dan seturut dengan gambaran
Yang mau ditampilkan kepada publik nantinya
Meskipun kita tak mengundang pihak luar manapun
Datang ke dalam ini upacara khidmat rahasia
Jangan kiranya hal-hal kecil sepele jadi terlewatkan
Buatlah dia kelihatan seperti tengah tidur, bukan, tapi
Ciptakan kesan dia tidak mati karena kesedihan
Yang bertahun-tahun diperamnya dalam kesepian
Mereka agak bersepakat akhirnya soal kemeja dan jas
Yang sebaiknya nanti dikenakannya, jangan lupa
Kaus tangannya nanti sebaiknya yang sering
Dipakainya waktu ia manggung, juga sepatunya
Kaca mata hitamnya taruh saja dekat kepalanya
Siapa tahu ia masih memerlukannya, juga topi itu
Coba bereskan dan tata lagi rambutnya lebih santun
Jangan macam seniman bohemian penyakitan begitu
Kita sebaiknya mengaturnya sedemikian agar terlihat
Ia bukan hendak pergi meninggalkan kita selamanya
Bukan begitu, tapi ia hanya melancong sebentar
Katakanlah jalan-jalan piknik ke bulan melupakan
Sesaat penat musim dan cuaca di bumi hampa
Mereka berdebat sengit tentang peti mati
Yang pantas untuk upacara penguburannya nanti
Mereka bertengkar perihal ukuran peti yang pas
Tentang berapa sebaiknya kadar karat emas
Yang paling baik digunakan melapis itu
Kotak segi empat bakal tubuhnya direbahkan
Supaya tak lekas dimakan bumi dimangsa waktu
Pihak-pihak yang berkompetan telah pula dipanggil
Sudah pada tempatnya saran mereka didengarkan
Mereka meributkan keadaan dalam peti
Apakah cukup sudah ketebalan bantalan beludru
Yang dipasang di sana, dan warna yang dipilihkan
Itu adakah cocok sudah dan seturut dengan gambaran
Yang mau ditampilkan kepada publik nantinya
Meskipun kita tak mengundang pihak luar manapun
Datang ke dalam ini upacara khidmat rahasia
Jangan kiranya hal-hal kecil sepele jadi terlewatkan
Buatlah dia kelihatan seperti tengah tidur, bukan, tapi
Ciptakan kesan dia tidak mati karena kesedihan
Yang bertahun-tahun diperamnya dalam kesepian
Mereka agak bersepakat akhirnya soal kemeja dan jas
Yang sebaiknya nanti dikenakannya, jangan lupa
Kaus tangannya nanti sebaiknya yang sering
Dipakainya waktu ia manggung, juga sepatunya
Kaca mata hitamnya taruh saja dekat kepalanya
Siapa tahu ia masih memerlukannya, juga topi itu
Coba bereskan dan tata lagi rambutnya lebih santun
Jangan macam seniman bohemian penyakitan begitu
Kita sebaiknya mengaturnya sedemikian agar terlihat
Ia bukan hendak pergi meninggalkan kita selamanya
Bukan begitu, tapi ia hanya melancong sebentar
Katakanlah jalan-jalan piknik ke bulan melupakan
Sesaat penat musim dan cuaca di bumi hampa
07 July 2009
Moon Walk
: Jacko (1958-2009)
Kini kita percaya
Biduan kita tak bahagia
Mungkin itu sebabnya
Ia merasa perlu sembunyi
Menukar kulit dan jantungnya
Dengan serupa kerudung kabung
Mungkin ia suka melamun
Hanya di bulan manusia bahagia
Maka terseok-seok ia berjalan
Coba sebrangi galaksi
Kini kita paham
Semua tak kunjung menolong
Sampai ia pun berhenti melolong
Kini kita percaya
Biduan kita tak bahagia
Mungkin itu sebabnya
Ia merasa perlu sembunyi
Menukar kulit dan jantungnya
Dengan serupa kerudung kabung
Mungkin ia suka melamun
Hanya di bulan manusia bahagia
Maka terseok-seok ia berjalan
Coba sebrangi galaksi
Kini kita paham
Semua tak kunjung menolong
Sampai ia pun berhenti melolong
04 July 2009
Langgam Lama 2
Kami akan pergi
Kembali kepada sungai
Sebab mereka paham
Arah ke muara
Kami akan mendaki
Berguru kepada gunung
Mereka teramat tabah
Menjunjung langit
Kami akan datang
Merambah ke dalam hutan
Guna menemu kembali
Akar sengketa
Mungkin akan kami
Tinggalkan kota-kota
Rumah dan asal-usul
Riwayat bumi yang cemar
Kami akan mengadu
Kepada ibu samudra
Memulangkan segala luka
Ke lubuk gelombang
Kembali kepada sungai
Sebab mereka paham
Arah ke muara
Kami akan mendaki
Berguru kepada gunung
Mereka teramat tabah
Menjunjung langit
Kami akan datang
Merambah ke dalam hutan
Guna menemu kembali
Akar sengketa
Mungkin akan kami
Tinggalkan kota-kota
Rumah dan asal-usul
Riwayat bumi yang cemar
Kami akan mengadu
Kepada ibu samudra
Memulangkan segala luka
Ke lubuk gelombang
02 July 2009
Rumah Baru
Sebuah rumah baru
Dibangun dekat simpangan itu
Kau tergoda bertanya
Berapa sepi kelak
Tinggal di rumah bagus itu?
Berapa cemas
Bakal beranak pinak?
Berapa luka
Mengisi ruang tetamunya
Menghadap senja?
Ada patung
Patung sepi
Pada halamannya
Kolam dan ikan-ikan
Lelampu di satu pojoknya
Cukup terangkah
Dibanding bebayang
Malam dan bintang mati?
Sebuah rumah baru
Dua kamar di lotengnya
Mungkin tiga kamar di lotengnya
Kau terusik bertanya
Dari jendela loteng itu
Langit masih berapa jauh lagi?
Dibangun dekat simpangan itu
Kau tergoda bertanya
Berapa sepi kelak
Tinggal di rumah bagus itu?
Berapa cemas
Bakal beranak pinak?
Berapa luka
Mengisi ruang tetamunya
Menghadap senja?
Ada patung
Patung sepi
Pada halamannya
Kolam dan ikan-ikan
Lelampu di satu pojoknya
Cukup terangkah
Dibanding bebayang
Malam dan bintang mati?
Sebuah rumah baru
Dua kamar di lotengnya
Mungkin tiga kamar di lotengnya
Kau terusik bertanya
Dari jendela loteng itu
Langit masih berapa jauh lagi?
30 June 2009
Langgam Lama
Para lelaki menjaring matahari
Pulang, mereka bawakan keringat dan daki
Perempuan mengolahnya jadi mimpi, menyimpannya
Di lubuk bulan, sampai matang musimnya
Anak-anak yang kelak lahir dari rahimnya
Memanggil gunung dan awan ibu bapaknya
Mereka sendiri sungai, berpencaran ke muara
Dan kota-kota, mendekap benih laut dan ombak
Pulang, mereka bawakan keringat dan daki
Perempuan mengolahnya jadi mimpi, menyimpannya
Di lubuk bulan, sampai matang musimnya
Anak-anak yang kelak lahir dari rahimnya
Memanggil gunung dan awan ibu bapaknya
Mereka sendiri sungai, berpencaran ke muara
Dan kota-kota, mendekap benih laut dan ombak
Subscribe to:
Posts (Atom)




