27 November 2011

Hutan Angan

Untunglah tidak semua
Yang melintas gila di angan

Lantas terukir juga
Di jidat sebelah depan ini

Untunglah lidah tak bertulang
Bersama bibir terkulum

Paham caranya menyimpan
Rapat pada mulut sepi terkunci

Rahasia busuk keji
Mengiang masuk di kuping

Sebelah kanan tak mungkin
Kau cegah dengan tangan

Tak bisa kau tahan dengan
Dua puluh jemari pembenaran

Untunglah tapi kaki sepasang
Melangkah tak pasti

Ke mana arah yang dituju
Bergantung juga pada yang lintas

Seram dalam hutan angan
Meski hidung tak bisa

Berhenti mengendus anyir sungguh
Darah yang tersibak di semak

Tangan tak bebas leluasa
Membuka yang sembunyi

Dalam jejari berjumlah sepuluh
Kisah tak bakal lengkap sepenuh

09 November 2011

Jepun Bali

Sepulang nanti ke kotamu
Ke rumah asalmu, bersama
Istri dan anak-anak tersayang
Janganlah terlalu lekas
Melupakan saya begitu saja
Ingatlah malam-malam putih
Yang kita seberangi bersama

Kuingat, kau tidur teramat pulas
Sehabis menuntas waktu
Yang lama terganjal rindu
Di atas lunak kasur dan temaram
Lelampu taman yang menyeret karam
Bumi, aku tak tega membangunkan

Kumatikan maka setelan alarm jam
Supaya kau bisa terus terpejam
Hingga menembus ambang
Paling kelam

Aku tahu, cepat atau sebentar
Kau akan melupakan juga saya
Tenggelam dalam kebanalan kerja
Sehari-hari, sepulang nanti ke Jakarta
Dua jam kurang perjalanan dari sini
Dengan penerbangan yang biasa

Saya hanya berharap, semoga
Tak semua hal tentang saya terlupa
Begitu saja, ingatlah misalnya lukisan
Kembang jepun di senyap dinding kamar:
Lukisan itu biasa & pasaran belaka kutahu
Seperti katamu juga, tapi bukan itu soalnya
Soalnya pada gegurat garis dan warnanya
Kini telanjur terbawa kisah kita
Berdua, terpapar pada ini latarnya

Juga meja kecil, di sebelah ranjang
Di atasnya, ketika itu kau letakkan sembarang:
Dompetmu, kaca mata, uang receh, kitab doa
Yang sengaja kau bawa dari rumah
Guna mengawal liburanmu pendek sayang
Dari kerumun roh dan jin tanah Bali

Yakinlah, pintu kamar ini
Terbuka kini senantiasa, guna kau masuki
Kembali kapan juga, seakan kenangan tak rela surut
Tulislah sajak jika sempat
Sepulangmu nanti
Agar cerita kita awet tersimpan lama
Terlindung dari hembusan cuaca
Ekstrem belakangan ini

01 November 2011

Pulau Miring

: Mardi Luhung

Dalam sajakmu, mengapa kurasa langit berat, menekan
Meski hujan tak mengancam samasekali, orang-orang
Yang sepertinya tak bahagia, tapi juga tak berduka
Mendiami kampung gersang, gersang yang gelisah tak ramah

Mereka punya matahari yang berwarna ungu
Sepanjang tahun, meski siang telah mengirimkan
Gelombang pasangnya ke jalan-jalannya lengang kurasa
Dengan angin kering yang usil menubruki dinding

Karena ini kota pantai, mereka coba menjelaskan:
Kami pun dekat dengan laut, mengenal maut seperti
Memahami tetangga sebelah kami,yang bisa saja
Sekonyong datang berkunjung larut malam, menjenguk

Mengingatkan kami pada sebuah kenduri purba
Maka, di pantai yang selamanya senyap
Orang-orang bermata cekung kadang bertemu, menetapi janji
Membagi-bagikan ciuman kelabu pada mulut pasir

Sebelum mereka santap beramai hidangan surga itu:
Nasi pandan hijau, sup kuping merah, jerohan bayi 7 bulan
Mereka akan pulang sesudah puas menumpahkan sisa muntahan
Di gili-gili seram pulau cantik, pulau cantik yang menangis

Orang-orang yang sepertinya sulit berbahagia ini
(Kuduga sebagian bermata ganjil, sebagiannya bertanduk.
Tanduk keling yang menancap pada pelipisnya tipis memar):
Dengan apa kusapa, jika berpapasan kami di jalan pulang?

Tapi kudengar mereka memang anonim, tak paham silsilah
Tinggal tak betah di rumah-rumah yang berdiri miring
Di sepanjang pesisir gering, di mana tak ada cukup jendela melambai
Terbuka, dan jika maut mendatangi, mereka akan memanjati genting

Menuntaskan takdir dan kepalanya di sebelah utara
Menyerahkan tubuh pada selatan yang lebih berkabut dan biru.
Kabut tebal pekat yang turun menaungi, menyembunyikan
Tuhan dan surga ungu, dalam selarik sajak miring

21 October 2011

Turis

Kini saya percaya
Turis itulah
Insan paling bahagia
Di bumi lata

Kampung mereka
Tidak di sini
Tiada tersurat
Dalam atlas biasa

Mungkin di sebalik
Benda-benda
Jauh sebelum
Tercipta nama

Dunia sekadar
Alamat singgah
Dalam kunjungan
Singkat mereka

Guna liburan
Sehari hanya
Di planit tua ubanan
Sarat kisah

Sebelum pulang
Lagi ke rumah lama
Jauh di sebalik ufuk
Di kampung asal

Kini saya percaya
Bahagia bisa hanya
Jika kupunya tulus
Hati seorang turis

19 October 2011

Lelaki Bulan, Perempuan Bintang

Suami yang kecewa
Sudah berhenti bicara
Dipalingkannya wajahnya
Pada malam di jendela

Mungkin masih ada
Bulan sepotong di sana
Mungkin masih terbaca
Alamat yang dulu

Istri yang kecewa
Sudah berhenti bertanya
Ia hadapkan mimpinya
Pada malam tersisa

Mungkin masih ada
Kerlip paras bintang
Padanya memandang
Menembus linang

Begitulah mereka:
Lelaki dan bulan
Perempuan dan bintang
Pada sebuah ruang-waktu

Dalam sebuah lagu
Komposisi yang ragu
Inerlude yang galau, mungkin
Ke akhir yang biru

14 October 2011

Kartu Pos Bergambar

(Inilah Bali
Tempat Wayan lahir
Suatu hari, dan menemu surya
Di lubuk samudra)

Hari ini kusalami
Tanahmu yang liat
Kisahmu yang sarat
Ceraplah, selaku
Sesembahan pelancong
Dari utara, kuharap sepadan
Selayak tamu

Pada lekuk-liku sajak
Lama kuselami
Gunung dan lautmu
Kurasa tapi baru sesudah
Genap langkahku
Menempuh Uluwatu
Kupahami akhirnya
Bahasa rindu

(Ya, inilah Bali
Tempat Wayan mangkat
Suatu hari, pulang mencapai
Moksa, di lepas lakon)

12 October 2011

Ibu Pergi ke Pasar

Ibu pergi ke pasar tradisional. Ibu tak pergi ke mal
dan supermarket. Bukan karena ibu pendukung
sistem ekonomi kerayakatan. Ibu pergi
ke pasar tradisional, karena sudah telanjur
biasa dan betah belanja di situ. Ada banyak
kenalannya di situ. Sudah berbilang tahun. Jadi ibu
bukan pendukung sistem ekonomi kerakyatan
yang banyak digembar-gemborkan juru kampanye
di televisi. Ibu juga tak paham apa itu neolib
atau sistem pasar bebas. Ibu hanya kepingin
belanja untuk masak hari ini. Ibu ingin
beli tempe, sayur bayam, ikan asin dan terasi
sebab bapak suka sekali sambal yang dipakaikan
terasi. Ibu akan masak sayur bayam, ikan asin
dan sambal terasi untuk bapak yang sudah
seharian bekerka keras. Untuk lelaki yang sudah
puluhan tahun memberikan umur dan tubuhnya
untuk diinjak-injak dan dinistakan. Mungkin
oleh yang suka disebut sistem ekonomi neolib
itu? Atau mungkin saja ia jadi begitu lantaran
pikiran-pikirannya yang teramat tradisional
sedang waktu dan kehidupan terus semakin juga
tancap gas, entahlah. Yang pasti hari ini bapak
bakal makan siang dengan lauk sayur bayam
dan ada sambal terasi di piring nasinya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...